Alumni SEHAMA KontraS Aceh Diskusi dan Buka Puasa Bersama

Nonton Bareng dan Diskusi tentang Film Dokumenter Asimetris

KontraS Aceh bersama Alumni sekolah HAM dan AFSC menggelar diskusi dan buka puasa bersama yang diikuti oleh 20 orang alumni sekolah HAM KontraS Aceh, turut hadir juga  Daud Beureueh (Ketua POKJA Perlindungan Saksi dan Korban KKR Aceh), Norma Manalue dan Ruwaida (aktivis perempuan). Setelah menonton film dokumenter ASIMETRIS karya Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz yang di dukung oleh Wachtdoc, dilanjutkan dengan diskusi ringan tentang Analisis Film Asimetris tersebut. Munawwar bertindak sebagai moderator menggiring diskusi dengan mempersilahkan peserta diskusi untuk memberikan gambaran tentang Penilaiannya terhadap film tersebut.

Dinar, ia membedah film tersebut dengan perspektif gender, bahwa para pekerja di kebun sawit tersebut kebanyakan adalah wanita, dimana mereka datang pada subuh hari, dari pukul 4 dan pulang malam hari, Dinar meyakinkan lagi dengan mengutarakan “ bukan hanya itu, upah  yang mereka terima hanya kisaran 50 ribu per hari, padahal pekerjaan yang mereka lakukan tergolong berat”.

Moderator memantik diskusi dan memancing peserta lain untuk membedah film yang sama, seperti Agam Ramadhan yang menekankan melihat fenomena tersebut dengan persfektif HAM, dimana para pemilik tanah yang memiliki hak milik atas tanah, tidak dihormati, dilindungi ataupun dipenuhi hak nya oleh Negara, dalam hal ini perusahaan sawit mengambil keuntungan besar dengan memakai lahan warga tanpa ada izin dari warga, “Negara yang harusnya hadir malah mengurung para pemilik tanah yang ingin memperjuangkan tanahnya yang diambil oleh perusahaan, sehingga ada indikasi pelanggaran HAM dengan metode pembiaran (By Ommission)” tuturnya.

Zikrillah yang duduk dipojok kanan ikut memberikan pandangan atas Film tersebut, ia turut mengarahkan diskusi untuk melihat ke arah faktor penyebab kenapa sistem perusahaan sawit itu ada, “Adanya perencaan terdahulu, dan indikator-indikator tertentu yang membuat industri masuk wilayah tertentu, seandainya tidak ada perencanaan terdahulu, tidak mungkin pihak peruhaan bisa masuk..” tuturnya..

Pada satu sisi, kehidupan ini membutuhkan hasil olahan dari Kelapa Sawit, seperti minyak goreng, Shampo, dan lain sebagainya. Namun disisi yang lain, dampak dari perusahaan sawit memiliki dampak negatif untuk warga disekitar perkebunan sawit.

Diskusi terus berlanjut dengan metode saling memberi pendapat, mengupas permasalahan dan solusi, sampai waktunya berbuka tiba, moderator baru menutup diskusi yang tergolong antusias.

 

By: Agam Ramadhan (Alumni Sekolah HAM Angkatan 7)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*