Untuk Munir-Munir di Daratan

Pembacaan Puisi pada Peringatan Munir

Saat Munir disunguhi racun arsenik
di langit-langit Amsterdam.

Ada kampung yang kanak-kanaya tidak bisa tidur
Kampung itu gaduh oleh suara bergu dan peluru.

Saat Munir tidak bisa lagi berucap: Hentikan!

Ada masyarakat yang cemas dan risau.

Di warung kopi beredar kabar:
Mungkin beruba rumor tentang tumor dibungkus humor
Siapa yang berani secara terang-terangan
Mengucapkan kemuakan dan menyusun agenda besar:
Berupa mengusir hama-hama jantan
Yang masuk kampung dan menyerbu isinya

Itu terjadi sekian tahun atau mungkin selang sehari
Atau malah saat Munir menghadapi hidangan

Seorang pawang juru tombak
Meniup bergu dengan nasa geram
Yang ia peram selama bertahun-tahun

Sebenarnya, banyak orang-orang waras
Bahkan orang tak waras mulai muak
Dengan takut-takut dan cemas mereka bilang:
“Sebab berkebun sudah tak tenang
Sebab hidup sudah tak aman”

Seseorang menambahi
“Aduh, rupanya itu hama bukan sembarang hama
Serupa babi tapi bukan babi
Muncungnya besi panjang berlubang”

Saat Munir tak bisa lagi teriak
“Tunjukkan! Tujukkan di mana manusia-manusia itu kau hilangkan!?”

Seorang dukun coba buatkan semacam mantra
Tapi bukan mantra.
Barangkali bisa temukan
Setidaknya sisa tulang belulang:

“Koketiko belango besi
Jumpo pirak karuti menci.
Di sana. di sebuah rumah
Paling ramai orang di dalamnya
Lelaki tidak ada perempuan
Potongan mereka sama
Pagarnya dari potongan batang kelapa
Juga ada karung-karung berisi pasir
Ketikoku menunjukkan ke sana
Mereka mungkin tahu”

Duaar!
Muntah pelor dari batang senjata
Dari tangan sekelompok orang berpelir

Ia terkapar bukan lantaran mantra
Lalu lantaran apa?
Mungkin ua tak becus mengurus belalainya
Hingga tampak oleh belalai lainnya

Hanya munir, hanya munir yang berani bertanya
Saat semua orang bertanya-tanya
Tapi tak ada yang berani

Ketika munir menikmati hidangan
Yang ia peroleh di kabin Garuda Indonesia GA 974

Di kampung-kampung peluru sedang merengek
Serupa bayi yang merengah pada tetek ibunya
Peluru-peluru menembus kaleng-kaleng kosong
Ibu kita bermuram muka berlinang air mata
Kesan dans edih bercampur baur keberadaanya

Seorang anak bertanya
“Kemana bapak?”
Sebotol dot berisi air rebusan beras

“Aish. Apa-apaan kau ini? Munir tamat lantaran bertanya”
“Bapakmu disembunyikan negara. Sssst! Jangan ribut! Diamlah!”
Atau kau ingin jadi Munir?

Bagi mereka, orang seperti Munir
Harus dihidangkan hal paling istimewa:
Kematian!

Munir yang berkumis, kurus dan bertahilalat
Dalam anggapan durjana mereka harus lekas tamat

Tubuh Munir memang sampai ke liat
Namun jiawanya bersama kita
Kata-katanya
Keberaniaanya
Pikirannya masih bersama kita

Mereka boleh tamatkan Munir di dada Garuda
Tapi mewangi pikirannya terbang bersama angin
Ia hanya berangkat ke langit
Membuat laporan paling tajam
Tuhan besamanya

Munir menjadi udara yang kita hirup
Pikirannya mengembun lalu menjadi
Air tanah bagi tanah air kita
Tekadadnya menjadi tanah menyerupa alur
Bagi bagi pertanyaan-pertanyaan kita
Menjadi tempat tumbuh tuntutan-tuntutan kita

Bedil-bedil berkeliaran
Memburu munir-munir kemudian

Munir dan udara dan kapal dan terbang dan racun

Munir adalah lelaki yang di tengah kengerian
Berucap dan larangan bercakap-cakap
Dengan sadar mewakafkan dirinya
Untuk mencari korban-korban yang dihilangkan

Munir telah lepas di udara
Yang kita hirup adalah garang dan lantangnya
Tubuh kurusnya tempat kita hinggap
Dan terus menyerukan puisi-puisi
Melontarkan pertanyaan-pertanyaan
Dan meyuarakan tuntutan-tuntutan

Lelaki itu telah pergi
Racun itu bekerja sangat cepat
Kurang dari enam belas jam
Tapi penyelesaian kasusnya
Berlansung selama 16 tahun
Dan masih tak tentu titik terang!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*