Napak Tilas 2020: Jejak Memorial dan Intervensi Ruang Publik

Alumni Sekolah HAM KontraS Aceh, Agam Ramadhan dan Munawar memperlihatkan foto tokoh Aceh yang menjadi korban pelanggaran HAM masa lalu. Mereka berpartisipasi dalam kegiatan Napak Tilas ke sejumlah titik konflik di Banda Aceh, Kamis (3/5/2020). (Foto/Fuadi)

Sedikitnya 50 peserta lintas daerah: Aceh, Jakarta, Makassar, NTT, Papua hingga Timor Leste mengikuti kegiatan memorialisasi terkait konflik dan perdamaian di Banda Aceh, Kamis (5/3/2020). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh bekerjasama dengan Asia Justice and Rights (AJAR).

Acara ini merupakan kali ke-3 yang diadakan KontraS Aceh sejak beberapa tahun terakhir. Namun, untuk pertama kalinya di tahun ini melibatkan peserta dari berbagai daerah lain di Indonesia, khususnya wilayah yang juga pernah didera konflik.

Selain menyambangi Museum Perdamaian di Kesbangpol Provinsi Aceh, peserta juga berkunjung ke Sekretariat Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh. Disana, mereka bersama sejumlah komisioner berdiskusi tentang proses pengungkapan kebenaran di Aceh, sekaligus merefleksikannya dengan konflik yang pernah terjadi di wilayah mereka masing-masing.

Berkunjung ke Museum Perdamaian di Kantor Kesbangpol Aceh. []
Komisioner KKR Aceh menjelaskan proses pengungkapan kebenaran konflik Aceh. []

Jelang sore, peserta diajak mengunjungi empat titik sejarah konflik Aceh. Di lokasi itu, beberapa narator menjelaskan sejarah di masing-masing lokasi. Pertama, pekarangan sekitar gerbang Mesjid Raya Baiturrahman, yang dulunya lokasi peristiwa penembakan tokoh Aceh, HT Djohan pada 10 Mei 2001.

Lokasi penembakan HT Djohan, di lorong depan gerbang Masjid Raya Baiturrahman. []


Selanjutnya peserta menuju lokasi bekas Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Keudah, kecamatan Kuta Alam. Di kawasan yang kini hanya menyisakan tanah kosong itu pernah ditahan sejumlah Tapol/Napol dari kalangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan aktivis HAM Aceh.

Napak tilas ke lahan bekas LP Keudah, Kecamatan Kuta Alam. []

Kemudian napak tilas berlanjut ke Jalan T Nyak Arief, Lampineung. Di kawasan itu pernah terjadi peristiwa penembakan terhadap Prof. Dayan Dawood, Rektor Unsyiah, tepatnya pada 6 September 2001 silam. Terakhir, peserta mengunjungi bekas kediaman Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof. Safwan Idris yang ditembak Orang Tak Dikenal (OTK) pada pagi 16 September 2000.

Ketua Himpunan Mahasiswa Papua-Aceh (HIMAPA), Yuspani Asemki, yang turut hadir dalam kegiatan ini mengatakan, proses perdamaian di Aceh penting untuk menjadi pembelajaran di daerah lain. Ia menggarisbawahi kearifan lokal sebagai aspek utama guna membangun interaksi antar masyarakat yang berkonflik untuk bisa berdamai.

Peserta napak tilas saat berada di sekitar Tugu Taman Ratu Safiatuddin. Ruas jalan di seberang tugu tersebut merupakan lokasi penembakan Rektor Unsyiah, Prof. Dayan Dawood yang terjadi pada September 2001 silam. []

“Setiap wilayah memiliki karakteristik masing-masing, peran adat dalam kearifan suatu wilayah mampu merekatkan kembali masyarakat, lewat itulah perdamaian perlu dirintis,” kata Yuspani.

Peserta dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Wisnu mengapresiasi keterlibatan generasi muda Aceh di kegiatan tersebut. Menurutnya, pemuda harus giat mengintervensi ruang publik dengan acara-acara memorialisasi semacam ini.

Di berbagai wilayah lain, Wisnu mencontohkan, pemuda dan aktivis menggelar diskusi, lapak buku, aksi semisal Aksi Kamisan, yang bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai dan kesadaran terhadap sejarah masa lalu.

“Untuk pertama kalinya saya ke Aceh, anak-anak mudanya ternyata peduli dengan sejarah konflik masa lalu mereka, terus terang saya kagum dengan hal ini. Karena itu sangat disayangkan jika tidak dibangun semacam tugu memorialisasi untuk mendukung upaya tersebut,” kata dia.

Pentingnya Memorialisasi

Di sela-sela diskusi usai Napak Tilas, seorang peserta mahasiswa dari UIN Ar-Raniry mengaku baru mengetahui titik lokasi penembakan terhadap sejumlah tokoh berpengaruh di Aceh.

“Padahal kawasan ini semua sering kami lewati, seperti gerbang Mesjid Raya, lalu persimpangan Jalan T Nyak Arief, termasuk bekas kediaman Prof Safwan Idris yang terletak di dalam komplek kampus UIN, tempat kuliah kami. Saya prihatin tidak ada tanda memorialisasi apapun di semua lokasi tersebut,” kata dia.

Hafiz, alumni Sekolah HAM KontraS Aceh menjelaskan sejarah tragedi penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof. Safwan Idris. []

Agam Ramadhan, mahasiswa yang juga alumni Sekolah Hak Asasi Manusia (HAM) Kontras Aceh, mengungkapkan pentingnya perhatian pemerintah untuk mengabadikan memorialisasi atas seluruh peristiwa tadi.

“Yang kita datangi tadi semuanya kasus yang menimpa tokoh penting di Aceh. Sangat kita sayangkan jika tak dibangun tugu penanda apapun untuk mengingat peristiwa itu. Bahkan seharusnya cerita ini masuk ke kurikulum sejarah di sekolah-sekolah di Aceh, supaya ini tidak dilupakan, generasu selanjutnya,” ujar dia.

Manajer Program KontraS Aceh, Faisal Hadi memaparkan bahwa pembunuhan sejumlah tokoh elit di Aceh mengurai catatan tersendiri dalam rangkaian kekerasan di masa konflik silam. Tokoh akademisi seperti Dayan Dawood dan Safwan Idris berhasil memunculkan narasi alternatif terkait penyelesaian konflik di Aceh.

Pihaknya mencatat, dalam rentang awal tahun 2000-an, mulai bermunculan sosok (prominent figure) yang bersuara soal penyelesaian konflik dengan pendekatan nir-kekerasan. Suara mereka, kata Faisal, berpeluang menarik perhatian dunia internasional.

“Prof. Safwan kerap mengkritisi pendekatan represif dan militeristik dalam menghadapi benturan di Aceh, ia menyuarakan penyelesaian damai, non-violence, demikian juga sejumlah aktivis pada masa itu, seperti Jafar Siddiq Hamzah yang juga dibunuh masa itu, pandangan mereka diduga mengusik kelompok-kelompok yang bertikai,” terang Faisal. []

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*