Bukan Cuma Suciwati yang Berhak Mencintai Munir!

“Kita saling tatap dan sama-sama cemas. Aku tahu risiko yang kita hadapi tidak lebih baik dari yang menimpa Marsinah. Tak perlu kata-kata untuk itu, kita saling tahu…”

Kutipan Buku Mencintai Munir

Ketika baris-baris kalimat dalam buku yang tengah digenggamnya mulai dibacakan oleh perempuan itu melalui pelantang, angin tetiba berembus sedang.

Rerimbun daun bambu yang letaknya tidak jauh dari tempat perempuan itu berdiri dengan stan mikrofon terlihat bergesekan satu sama lain serta bergemerisik.

Tak ada arakan awan gemawan, di atas sana langit tampak gelap dan ragu-ragu.

Perempuan itu adalah Asiah, mantan Koordinator KontraS Aceh periode 2005-2008 yang sedang menukil beberapa paragraf dari halaman buku Mencintai Munir.

Gaya penulisan Suciwati-istri Almarhum Cak Munir, selaku penulis buku tersebut-yang memakai sapaan “kamu” untuk suaminya direpresentasikan dengan cukup baik oleh Asiah.

Dengan intonasi sederhana, suara Asiah terdengar tegar dan melarungkan, ditambah lagi dengan petikan gitar akustik Fuadi Mardhatillah yang lamat-lamat mengiringi.

Dari kiri, Agam Ramdhan, Suciwati, Indria Fernida, Iqbal Farabi, Azhari Aiyub

Nukilan yang dibacakan oleh Asiah merupakan rangkaian dari tur peluncuran buku Mencintai Munir disertai diskusi yang kali ini digelar di sebuah kafe kawasan Seutui, Banda Aceh, Selasa sore (15/11/2022).

Istri almarhum Munir Said Thalib, Suciwati, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia ditemani dua orang sahabat almarhum suaminya, yaitu Indria Fernida dan Iqbal Farabi, serta sastrawan kenamaan Azhari Aiyub.

Jika Indria bercerita bahwa Cak Munir merupakan orang yang mendorongnya berkiprah sebagai aktivis pembela hak asasi manusia, maka Iqbal Farabi berkisah soal peran Munir di balik pembentukan lembaga kemanusiaan KontraS Aceh.

Iqbal juga mengenang bagaimana dirinya dan Sosiolog Otto Syamsuddin Ishak, menemani Cak Munir pada hari-hari yang mendebarkan terutama ketika bertemu dengan Panglima GAM Abdullah Syafi’i.

Selain itu juga mencuat resurjensi tentang tilas Cak Munir di Serambi Makkah, terutama tentang jasanya dalam mengamplifikasi kasus-kasus kekerasan militer yang terjadi di Aceh ke luar.

Vespa, stensilan, dan botol ilustrasi arsenik yang menyebabkan kematian aktivis kemanusiaan Munir Said Thalib

Di waktu yang sama, ada Azhari Aiyub yang perlahan mulai mengimajinasikan sosok Munir melalui pelbagai narasi yang pernah dibaca olehnya.

Suciwati sempat tersenyum-senyum sendiri sewaktu mengingat momen ketika Cak Munir melamar dirinya.

Saat itu, ia tidak serta merta menerima lamaran tersebut. Ia meminta waktu sebulan lamanya untuk berpikir terlebih dahulu.

Suciwati mengaku sempat ragu akan terjadi tubrukan kultur prinsipiel antara Cak Munir yang merupakan keturunan Arab dengan dirinya yang berasal dari keturunan Jawa.

“Setelah satu bulan saya berpikir, saya merasa bahwa saya cukup kuat untuk hidup bersama dia, dan, mungkin, saya juga yang bisa bersama dia,” kisah Suciwati, Selasa (15/11/2022).

Apa yang dikatakan oleh Suciwati bukan isapan jempol belaka. Terhitung sejak 7 September 2004 silam setelah Cak Munir dibunuh, perempuan itu bertahan.

Bukan cuma sebagai pasangan, Suciwati juga paling getol dalam mengadvokasi agar kasus pembunuhan Cak Munir ditetapkan sebagai Pelanggaran HAM berat.

Saat ditanya tentang cinta seperti apa yang membuat Suciwati bertahan, perempuan itu hanya tersenyum lalu menunjukkan lembaran halaman yang menjadi pemungkas buku tersebut.

Otto Syamsuddin Ishaq, menyampaikan kenangan tentang Cak Munir

“Ucapan selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tak kan ada yang namanya perpisahan!” (Jalaluddin Rumi).

Suciwati sendiri mengaku pesimis dengan pembentukan tim Ad Hoc di bawah Komnas HAM untuk mengusut kasus pembunuhan suaminya yang dibentuk pada September 2022.

Masa kerja dari tim Ad Hoc tersebut amatlah singkat. Selain itu, mereka baru menghubunginya pada 27 Oktober 2022 sementara masa kerja tim tersebut kelar pada 11 November 2022.

“Buat aku mereka gagal,” tegasnya.

Selain itu, upaya menjaga legasi Cak Munir dalam orbit penegakan HAM di Indonesia dimanifestasikan oleh Suciwati ke dalam Museum Omah Munir.

Dari buku Mencintai Munir inilah terungkap bahwa ternyata di balik kesan aktivis kemanusiaan yang hidupnya selalu beririsan dengan bahaya, Cak Munir merupakan sosok yang romantis.

Namun, buku ini bukan roman picisan yang melulu bicara soal cinta pada kekasih.

Pun bukan cuma Suciwati yang berhak mencintai Munir.

“Buku ini jadi bagian dari perjuangan, bagian terus mengingatkan. Tidak hanya secara personal, tetapi ini juga soal mendobrak negara yang terus menerus memperlakukan rakyatnya dengan buruk, itu juga bagian dari mencintai Munir,” cetus Suciwati.

Peluncuran dan diskusi buku Mencintai Munir ini sendiri terjadi berkat kolaborasi antara KontraS Aceh, Asia Justice And Rights (AJAR), dan Museum HAM Munir.

“Bagi Kontras Aceh, ini bukan hanya kegiatan tapi ikhtiar yang tidak henti untuk mendorong agar proses keadilan pada kasus pembunuhan Cak Munir segera dilakukan oleh negara,” tegas Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna, Kamis sore (16/11/2022).

Sumber : Liputan6.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID